Potensi Daerah

oleh Sebar Tweet

Potensi Ekonomi

Ekonomi di Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogiri digerakkan oleh sektor pertanian, industri rumahan, perdagangan dan jasa. Kecamatan Girimarto dikenal sebagai penghasil beras, ketela pohon, cengkih, dan kokoa. Industri rumahan yang ditekuni warga kecamatan ini antara lain pembuatan kripik tempe, genteng dan batu bata.

Perdagangan dilakukan dibeberapa pasar yang tersebar di seluruh kecamatan. Pasar yang paling ramai adalah Pasar Pahing (buka hanya saat hari Pahing dalam penanggalan Jawa yang terletak di depan kantor camat. Jika pasaran, halaman Kantor Kecamatan penuh dengan kendaraan.

Potensi Pariwisata

Beberapa tempat penting bernilai wisata di wilayah kecamatan ini adalah Danau Candi Muncar yang terletak di Desa Bubakan.

Selain itu terdapat Omah Tiban yang juga terletak di Bubakan. Rumah ini adalah petilasan dari Raden Mas Said saat melawan Kesultanan Yogyakarta yang sudah bersekutu dengan Belanda, ditempat ini juga diadakan jamasan pusaka yang digelar bersamaan dengan kegiatan serupa di Pura Mangkunagaran

Rumah Tiban ini berada di kawasan nan sejuk. Lantaran termasuk di deretan lereng Gunung Lawu sisi selatan. Lokasinya di tengah perkampungan nan asri. Pun warga sekitarnya terkenal ramah dan murah senyum.

Sehingga pengunjung yang datang dijamin bakal betah untuk berlama-lama. Rumah Tiban Bubakan Girimarto berupa rumah sederhana dengan atap ijuk. Saat ini sudah direnovasi karena telah mengalami kerusakan akibat dimakan usia. Dari bentuk fisik masih menyisakan beberapa bagian rumah yang masih asli. Meliputi atap, konstruksi tiang utama dan batu tempat semedi Raden Mas Said.

Di tempat ini masih tersimpan beberapa pusaka peninggalan Raden Mas Said. Pusaka masih tetap dirawat dan dijamas bersamaan dengan event Jamasan Pusaka Mangkunegaran yang biasa digelar di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.

Berdasarkan kisah yang terpajang di rumah tiban ini, tempat ini merupakan tempat persinggahan Raden Mas Said ketika terjadi penyerangan ke keraton Yogyakarta bersama prajuritnya.

Selama perjalanan dari Desa Bubakan lalu melewati desa Cendani, perjalanan Raden Mas Said seperti dituntun oleh kekuatan gaib. Burung-burung dandang yang jumlahnya ratusan berdiri di tepian selokan yang ada di sepanjang jalan yang dilewati Pangeran Sambernyowo.

Burung-burung tersebut berdiri tanpa suara di depan barisan Pangeran Sambernyowo, dan setiap kali pangeran dan pasukannya selesai melewati mereka, burung-burung itu akan terbang mendahului dan berdiri lagi di depan barisan. Begitu seterusnya sampai tiga kali.

Kehadiran burung-burung itu dianggap oleh Ki Kudanawarsa sebagai pertanda buruk. Beliau menyarankan kepada Pangeran Sambernyowo untuk membatalkan rencananya menyerang Jogja. Tapi bukannya menyerah justru Pangeran Sambernyowo malah memerintahkan untuk mempercepat penyerangan.